Filsafat Pancasila
FILSAFAT
PANCASILA
PENGERTIAN
FILSAFAT DAN FILSAFAT PANCASILA
- Pengertian Filsafat
- Istilah ‘filsafat’ secara etimologis merupakan
padanan kata falsafah (Arab) dan philosophy (Inggris) yang berasal
dari bahasa Yunani filosofia (philosophia).
- Kata philosophia merupakan kata majemuk
yang terususun dari kata philos atau philein yang berarti
kekasih, sahabat, mencintai dan kata sophia yang berarti
kebijaksanaan, hikmat, kearifan, pengetahuan.
- Dengan demikian philosophia secara
harafiah berarti mencintai kebijaksanaan, mencintai hikmat atau mencintai
pengetahuan.
- Cinta mempunyai pengertian yang luas.
Sedangkan kebijaksanaan mempunyai arti yang bermacam-macam yang berbeda
satu dari yang lainnya.
- Istilah philosophos pertama kali digunakan
oleh Pythagoras.
- Ketika Pythagoras ditanya, apakah engkau
seorang yang bijaksana?
- Dengan rendah hati Pythagoras menjawab, ‘saya
hanyalah philosophos, yakni orang yang mencintai pengetahuan’.
- Ada dua pengertian filsafat, yaitu:
- Filsafat dalam arti proses dan filsafat dalam
arti produk.
- Filsafat sebagai ilmu atau metode dan
filsafat sebagai pandangan hidup
- Filsafat dalam arti teoritis dan filsafat
dalam arti praktis.
- Pancasila dapat digolongkan sebagai filsafat
dalam arti produk, sebagai pandangan hidup, dan dalam arti praktis.
- Ini berarti
Filsafat Pancasila mempunyai fungsi dan peranan sebagai pedoman
dan pegangan dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam kehidupan
sehari-hari, dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara bagi bangsa
Indonesia.
- Pengertian Filsafat Pancasila
- Pancasila sebagai filsafat mengandung
pandangan, nilai, dan pemikiran yang dapat menjadi substansi dan isi
pembentukan ideologi Pancasila.
- Filsafat Pancasila dapat didefinisikan secara
ringkas sebagai refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila sebagai
dasar negara dan kenyataan budaya bangsa, dengan tujuan untuk mendapatkan
pokok-pokok pengertiannya yang mendasar dan menyeluruh.
- Pancasila dikatakan sebahai filsafat, karena
Pancasila merupakan hasil permenungan jiwa yang mendalam yang dilakukan
oleh the faounding father kita, yang dituangkan dalam suatu sistem
(Ruslan Abdul Gani).
- Filsafat Pancasila memberi pengetahuan dan
penngertian ilmiah yaitu tentang hakikat dari Pancasla (Notonagoro).
PANCASILA
SEBAGAI SUATU SISTEM FILSAFAT
SEBAGAI SUATU SISTEM FILSAFAT
- Pembahasan mengenai Pancasila sebagai sistem
filsafat dapat dilakukan dengan
cara deduktif dan induktif.
- Cara deduktif yaitu dengan mencari hakikat
Pancasila serta menganalisis dan menyusunnya secara sistematis menjadi
keutuhan pandangan yang komprehensif.
- Cara induktif yaitu dengan mengamati
gejala-gejala sosial budaya masyarakat, merefleksikannya, dan menarik
arti dan makna yang hakiki dari gejala-gejala itu.
1. Sila-sila Pancasila merupakan satu-kesatuan sistem
yang bulat dan utuh. Dengan kata lain, apabila tidak bulat dan utuh atau satu
sila dengan sila lainnya terpisah-pisah maka itu bukan Pancasila.
2. Susunan Pancasila dengan suatu sistem yang bulat dan
utuh itu dapat digambarkan sebagai berikut:
§ Tuhan, yaitu sebagai kausa prima
§ Manusia, yaitu makhluk individu dan makhluk sosial
§ Satu, yaitu kesatuan memiliki kepribadian sendiri
§ Rakyat, yaitu unsur mutlak negara, harus bekerja sama dan gotong royong
§ Adil, yaitu memberi keadilan kepada diri sendiri dan orang lain yang menjadi
haknya.
§ Ontologi, menurut Aristoteles adalah ilmu yang
meyelidiki hakikat sesuatu atau tentang ada, keberadaan atau
eksistensi dan disamakan artinya dengan metafisika.
§ Masalah ontologis antara lain: Apakah hakikat
sesuatu itu? Apakah realitas yang ada tampak ini suatu realitas sebagai
wujudnya, yaitu benda? Apakah ada suatu
rahasia di balik realitas itu, sebagaimana yang tampak pada makhluk hidup? Dan
seterusnya.
§ Bidang ontologi menyelidiki tentang makna yang ada
(eksistensi dan keberadaan) manusia, benda, alam semesta (kosmologi),
metafisika.
§ Secara ontologis, penyelidikan Pancasila sebagai
filsafat dimaksudkan sebagai upaya untuk mengetahui hakikat dasar dari
sila-sila Pancasila.
§ Pancasila yang terdiri atas lima sila, setiap sila
bukanlah merupakan asas yang berdiri sendiri-sendiri, malainkan memiliki satu
kesatuan dasar ontologis.
§ Dasar ontologis Pancasila pada hakikatnya adalah
manusia, yang memiliki hakikat mutlak yaitu monopluralis, atau monodualis,
karena itu juga disebut sebagai dasar antropologis. Subyek pendukung
pokok dari sila-sila Pancasila adalah manusia.
§ Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa yang Berketuhan
Yang Maha Esa, yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berpersatuan,
yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan serta yang berkeadilan sosial pada hakikatnya adalah
manusia.
§ Sedangkan manusia sebagai pendukung pokok sila-sila
Pancasila secara ontologis memiliki hal-hal yang mutlak, yaitu terdiri atas
susunan kodrat, raga dan jiwa, jasmani dan rohani. Sifat kodrat manusia adalah
sebagai makhluk individu dan makhluk sosial serta sebagai makhluk pribadi dan
makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Maka secara hirarkis sila pertama mendasari dan
menjiwai sila-sila Pancasila lainnya. (lihat Notonagoro, 1975: 53).
§ Hubungan kesesuaian antara negara dan landasan
sila-sila Pancasila adalah berupa hubungan sebab-akibat:
§ Epistemologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki asal, syarat, susunan,
metode, dan validitas ilmu pengetahuan.
§ Epistemologi meneliti sumber pengetahuan, proses dan
syarat terjadinya pengetahuan, batas dan validitas ilmu pengetahuan.
§ Epistemologi adalah ilmu tentang ilmu atau teori
terjadinya ilmu atau science of science.
§ Menurut Titus (1984:20) terdapat tiga persoalan yang
mendasar dalam epistemologi, yaitu:
§ Secara epistemologis kajian Pancasila sebagai
filsafat dimaksudkan sebagai upaya untuk mencari hakikat Pancasila sebagai
suatu sistem pengetahuan.
§ Pancasila sebagai sistem filsafat pada hakikatnya
juga merupakan sistem pengetahuan. Ini berarti Pancasila telah menjadi suatu belief
system, sistem cita-cita, menjadi suatu ideologi. Oleh karena itu Pancasila
harus memiliki unsur rasionalitas terutama dalam kedudukannya sebagai sistem
pengetahuan.
§ Dasar epistemologis Pancasila pada hakikatnya tidak
dapat dipisahkan dengan dasar ontologisnya.
Maka, dasar epistemologis Pancasila sangat berkaitan erat dengan konsep
dasarnya tentang hakikat manusia.
§ Pancasila sebagai suatu obyek pengetahuan pada hakikatnya meliputi masalah sumber
pengetahuan dan susunan pengetahuan Pancasila.
§ Tentang sumber pengetahuan Pancasila,
sebagaimana telah dipahami bersama adalah nilai-nilai yang ada pada bangsa
Indonesia sendiri. Nilai-nilai tersebut merupakan kausa materialis Pancasila.
§ Tentang susunan Pancasila sebagai suatu sistem
pengetahuan, maka Pancasila memiliki susunan yang bersifat formal logis,
baik dalam arti susunan sila-sila Pancasila maupun isi arti dari sila-sila
Pancasila itu. Susunan kesatuan sila-sila Pancasila adalah bersifat hirarkis
dan berbentuk piramidal.
§ Sifat hirarkis dan bentuk piramidal itu nampak dalam
susunan Pancasila, di mana sila pertama Pancasila mendasari dan menjiwai
keempat sila lainny, sila kedua didasari sila pertama dan mendasari serta
menjiwai sila ketiga, keempat dan kelima, sila ketiga didasari dan dijiwai sila
pertama dan kedua, serta mendasari dan menjiwai sila keempat dan kelima, sila
keempat didasari dan dijiwai sila pertama, kedua dan ketiga, serta mendasari
dan menjiwai sila kelma, sila kelima didasari dan dijiwai sila pertama, kedua,
ketiga dan keempat
§ Dengan demikian susunan Pancasila memiliki sistem
logis baik yang menyangkut kualitas maupun kuantitasnya.
§ Susunan isi arti Pancasila meliputi tiga hal, yaitu:
§ Menurut Pancasila, hakikat manusia adalah monopluralis,
yaitu hakikat manusia yang memiliki unsur pokok susunan kodrat yang terdiri
atas raga dan jiwa. Hakikat raga manusia memiliki unsur fisis anorganis,
vegetatif, dan animal. Hakikat jiwa memiliki unsur akal, rasa,
kehendak yang merupakan potensi sebagai sumber daya cipta manusia yang
melahirkan pengetahuan yang benar, berdasarkan pemikiran memoris, reseptif,
kritis dan kreatif. Selain itu, potensi atau daya tersebut mampu
meresapkan pengetahuan dan menstranformasikan pengetahuan dalam demontrasi,
imajinasi, asosiasi, analogi, refleksi, intuisi, inspirasi dan ilham.
§ Dasar-dasar rasional logis Pancasila menyangkut
kualitas maupun kuantitasnya, juga menyangkut isi arti Pancasila tersebut.
§ Sila Ketuhanan Yang Maha Esa memberi landasan
kebenaran pengetahuan manusia yang bersumber pada intuisi.
§ Manusia pada hakikatnya kedudukan dan kodratnya
adalah sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, maka sesuai dengan sila pertama
Pancasila, epistemologi Pancasila juga mengakui kebenaran wahyu yang bersifat
mutlak. Hal ini sebagai tingkat kebenaran yang tinggi.
§ Dengan demikian kebenaran dan pengetahuan manusia
merupapakan suatu sintesa yang harmonis antara potensi-potensi kejiwaan manusia
yaitu akal, rasa dan kehendak manusia untuk mendapatkankebenaran yang tinggi.
§ Selanjutnya dalam sila ketiga, keempat, dan kelima,
maka epistemologi Pancasila mengakui kebenaran konsensus terutama dalam
kaitannya dengan hakikat sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan
makhluk sosial.
§ Sebagai suatu paham epistemologi, maka Pancasila
mendasarkan pada pandangannya bahwa ilmu pengetahuan pada hakikatnya tidak
bebas nilai karena harus diletakkan pada kerangka moralitas kodrat manusia
serta moralitas religius dalamupaya untuk mendapatkan suatu tingkatan
pengetahuan yang mutlak dalam hidup manusia.
§ Sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem filsafat
memiliki satu kesatuan dasar aksiologis, yaitu nilai-nilai yang terkandung
dalam Pancasila pada hakikatnya juga merupakan suatu kesatuan. Aksiologi
Pancasila mengandung arti bahwa kita membahas tentang filsafat nilai Pancasila.
§ Istilah aksiologi berasal dari kata Yunani axios yang
artinya nilai, manfaat, dan logos yang artinya pikiran, ilmu atau teori.
§ Aksiologi adalah teori nilai, yaitu sesuatu yang
diinginkan, disukai atau yang baik. Bidang yang diselidiki adalah hakikat
nilai, kriteria nilai, dan kedudukan metafisika suatu nilai.
§ Nilai (value dalam Inggris) berasal
dari kata Latin valere yang
artinya kuat, baik, berharga. Dalam kajian filsafat merujuk pada sesuatu yang
sifatnya abstrak yang dapat diartikan sebagai “keberhargaan” (worth)
atau “kebaikan” (goodness). Nilai itu sesuatu yang berguna. Nilai juga
mengandung harapan akan sesuatu yang diinginkan.
§ Nilai adalah suatu kemampuan yang dipercayai yang
ada pada suatu benda untuk memuaskan manusia (dictionary of sosiology an
related science). Nilai itu suatu sifat atau kualitas yang melekat pada
suatu obyek.
§ Ada berbagai macam teori tentang nilai.
§ Max Scheler mengemukakan bahwa nilai ada
tingkatannya, dan dapat dikelompokkan menjadi empat tingkatan, yaitu:
§ Walter G. Everet menggolongkan nilai-nilai manusia
ke dalam delapan kelompok:
§ Notonagoro membagi nilai menjadi tiga macam,, yaitu:
§ Dalam filsafat Pancasila, disebutkan ada tiga
tingkatan nilai, yaitu nilai dasar, nilai instrumental, dan nilai praktis.
§ Nila-nilai dalam Pancasila termasuk nilai etik atau
nilai moral merupakan nilai dasar yang mendasari nilai intrumental dan
selanjutnya mendasari semua aktivitas kehidupan masyarakat, berbansa, dan
bernegara.
§ Secara aksiologis, bangsa Indonesia merupakan
pendukung nilai-nilai Pancasila (subscriber of value Pancasila), yaitu
bangsa yang berketuhanan, yang berkemanusiaan, yang berpersatuan, yang
berkerakyatan dan berkeadilan sosial.
§ Pengakuan, penerimaan dan pernghargaan atas
nilai-nilai Pancasila itu nampak dalam sikap, tingkah laku, dan perbuatan
bangsa Indonesia sehingga mencerminkan sifat khas sebagai Manusia Indonesia
PANCASILA SEBAGAI
IDEOLOGI BANGSA DAN NEGARA
IDEOLOGI BANGSA DAN NEGARA
§ A.S. Hornby mengatakan bahwa ideologi adalah seperangkat gagasan yang membentuk
landasan teori ekonomi dan politik atau yang dipegangi oleh seorang atau
sekelompok orang.
§ Soerjono Soekanto menyatakan bahwa secara umum ideologi sebagai kumpulan gagasan, ide, keyakinan,
kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis, yang menyangkut bidang politik,
sosial, kebudayaan, dan agama.
§ Gunawan Setiardja merumuskan ideologi sebagai seperangkat ide asasi tentang manusia dan
seluruh realitas yang dijadikan pedoman dan cita-cita hidup.
§ Frans Magnis Suseno mengatakan bahwa ideologi sebagai suatu sistem
pemikiran yang dapat dibedakan menjadi ideologi tertutup dan ideologi terbuka.
§ Ideologi tertutup, merupakan suatu sistem pemikiran tertutup. Ciri-cirinya: merupakan
cita-cita suatu kelompok orang untuk mengubah dan memperbarui masyarakat; atas
nama ideologi dibenarkan pengorbanan-pengorbanan yang dibebankan kepada
masyarakat; isinya bukan hanya nilai-nilai dan cita-cita tertentu, melainkan
terdiri dari tuntutan-tuntutan konkret dan operasional yang keras, yang
diajukan dengan mutlak.
§ Ideologi terbuka, merupakan suatu pemikiran yang terbuka. Ciri-cirinya: bahwa nilai-nilai
dan cita-citanya tidak dapat dipaksakan dari luar, melainkan digali dan diambil
dari moral, budaya masyarakat itu sendiri; dasarnya bukan keyakinan ideologis
sekelompok orang, melainkan hasil musyawarah dari konsensus masyarakat
tersebut; nilai-nilai itu sifatnya dasar, secara garis besar saja sehingga
tidak langsung operasional.
Ada tiga dimensi sifat ideologi, yaitu dimensi realitas,
dimensi idealisme, dan dimensi fleksibilitas.
- Dimensi Realitas: nilai yang terkandung dalam dirinya,
bersumber dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, terutama pada
waktu ideologi itu lahir, sehingga mereka betul-betul merasakan dan
menghayati bahwa nilai-nilai dasar itu adalah milik mereka bersama.
Pancasila mengandung sifat dimensi realitas ini dalam dirinya.
- Dimensi idealisme: ideologi itu mengandung cita-cita yang ingin
diicapai dalam berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Pancasila bukan saja memenuhi dimensi idealisme ini tetapi
juga berkaitan dengan dimensi realitas.
- Dimensi fleksibilitas: ideologi itu memberikan penyegaran,
memelihara dan memperkuat relevansinya dari waktu ke waktu sehingga
bebrsifat dinamis, demokrastis. Pancasila memiliki dimensi fleksibilitas
karena memelihara, memperkuat relevansinya dari masa ke masa.
- Faktor Pendorong Keterbukaan Ideologi Pancasila
- Kenyataan dalam proses pembangunan nasional
dan dinamika masyarakat yang berkembang secara cepat.
- Kenyataan menujukkan bahwa bangkrutnya
ideologi yang tertutup danbeku cendnerung meredupkan perkembangan
dirinya.
- Pengalaman sejarah politik masa lampau.
- Tekad untuk memperkokoh kesadaran akan
nilai-nilai dasar Pancasila yang bersifat abadi dan hasrat mengembangkan
secara kreatif dan dinamis dalam rangka mencapai tujuan nasional.
- Sekalipun Pancasila sebagai ideologi bersifat
terbuka, namun ada batas-batas keterbukaan yang tidak boleh dilanggar,
yaitu:
- Stabilitas nasional yang dinamis
- Larangan terhadap ideologi marxisme,
leninnisme dan komunisme
- Mencegah berkembangnya paham liberalisme
- Larangan terhadap pandangan ekstrim yang
menggelisahkan kehidupan bermasyarakat
- Penciptaan norma-norma baru harus melalui
konsensus.
- Makna Pancasila sebagai Ideologi Bangsa
- Makna Pancasila sebagai ideologi bangsa
Indonesia adalah bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi
Pancasila itu menjadi cita-cita normatif bagi penyelenggaraan
bernegara. Dengan kata lain, visi atau arah dari penyelenggaraan
kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia adalah terwujudnya kehidupan
yang ber-Ketuhanan, yang ber-Kemanusiaan, yang ber-Persatuan, yang
ber-Kerakyatan, dan yang ber-Keadilan.
- Pancasila sebagai ideologi nasional selain
berfungsi sebagai cita-cita normatif penyelenggaraan bernegara,
nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan nilai yang
disepakati bersama, karena itu juga berfungsi sebagai sarana pemersatu
masyarakat yang dapat memparsatukan berbagai golongan masyarakat di
Indonesia.

Titanium Hoardrings - T-Shirt
ReplyDeleteShop T-Shirt with titanium mokume gane free shipping on T-Shirt.com. ✓ FREE Shipping on First 3 titanium hip deposits on T-Shirt.com. ✓ 30% titanium scrap price off on T-Shirt.com ✓ titanium cross necklace FREE Returns on Top nier titanium alloy Secret Shirts.